Sabtu, 23 Februari 2019

Keresahan yang Gue Rasakan di Instagram


Dengan hormat,
Saya pemilik blog ini memohon maaf  karena udah lama tidak update postingan. Dikarenakan terlalu sibuk mencari alasan untuk tidak menulis, sampai akhirnya untuk kembali menyusun kalimat udah mulai kaku dan bingung harus bagaimana memulainya. Jadi, jangan pusing kalo tulisan gue berantakan. Sepakat? Lanjut!

Baiklah, mari kita mulai.

Gue melihat perkembangan media sosial sangat meroket, terutama jumlah penggunanya. Semua kalangan berlomba-lomba punya akun medsos biar nggak ketinggalan zaman, bisa curhat dengan bebas, pamer abis beli barang baru, sampe upload video makan sabun. Facebook, Twitter, Instagram, Bigo Live, dan lain sebagainya menjadi aplikasi yang wajib ada di smartphone.

Berhubung yang paling rame sekarang adalah Instagram, jadi gue akan meluapkan keresahan ketika berselancar di dalamnya. Gue mulai main Instagram tahun 2013, suasananya saat itu berasa kayak lagi di Indomaret; ADEM. Nggak pernah gue lihat komentar yang sebenernya mau memojokan orang lain, tapi diperhalus dengan kalimat pembuka “maaf sekadar mengingatkan” padahal bangsat. Eh tahun-tahun berikutnya malah jadi begini. Panas.

Btw, gue nggak menyalahkan siapapun yang menasehati kalo emang niatnya baik. Bisa lewat DM atau email, bukan di ruang publik. Menyampaikannya pun harus sopan. Apalagi kalo nggak kenal. Yang sering gue temukan justru kalimatnya seenak jidat. Ya gimana mau diterima?

Mayoritas mereka adalah pemilik akun 0 post, 0 following, 0 followers dan diprivate. Tujuan bikin akun bodong cuma untuk mengikuti nafsu jempolnya yang jahat itu. Ada juga yang profile picture, bio, dan feednya religius, tapi ikut menyebarkan kebencian, provokasi, sampe ikut campur kehidupan pribadi orang lain. Terutama di akun artis, influencer, dan orang terkenal lainnya. Masuk ke comment section, lalu komentar body shaming dan gosip miring. Kenapa ya mereka seposesif itu sama orang yang belum tau aslinya gimana, tapi seakan-akan selalu berada di sampingnya. Dasar rengginang!

Aaa... kuah pop mie!

Aaa... sol patu!

Hati terlanjur benci. Sekalipun hal baik dan bermanfaat yang dilakukan, pasti dicari-cari kesalahannya. Rasa kemanusiaan dikesampingkan, nggak peduli sakit hati atau nggak, yang terpenting puas menyampaikan kekesalan.

Orang-orang kayak gini biasanya cuma berani di jagat maya. Kalo ketemu langsung paling minta foto. Ada juga yang tiba-tiba kesurupan batu. Diem doang.

Bukan cuma itu, beberapa kali gue menemukan tipe yang suka ribut dan debat biar kelihatan pinter. Mengutarakan pendapat yang menurutnya bener, lalu ada yang bantah, eh dibantah lagi dan begitu seterusnya. Endingnya nggak ada point yang bisa diambil karena emang bukan diskusi, tapi perang ego dan emosi. Bahkan ada sebuah debat nyebut lawannya dengan nama hewan.

"Lo pikir aja, emang rindu bisa diatur-atur?"

"Gausah ngegas nyuruh gua mikir segala, njing!"

"Emang lu tau rindu, nyet?"

"Bukan urusan lu gua tau atau nggak!"

Begitu contohnya.

Tapi masih banyak juga debat sehat yang bisa kamu temukan. Terserah kamu lebih tertarik yang mana.

Makin kesini Instagram seakan menjadi sebuah platform untuk ajang saling menjatuhkan yang nggak sefrekuensi, bukan sebagai tempat untuk memberi informasi atau menunjukan karya. Bahkan ada yang memberanikan diri memposting karyanya, malah dinyinyirin. Apa sih susahnya mengapresiasi, wahai sapu lidi?

Kalo dirasa nggak sesuai ekspektasi, nggak perlu caci maki.

Anyway, gue pernah mengalami fase di mana mau posting karya harus mikir lumayan lama.

“Bagus ga ya?”

“Ada yang suka ga ya?”

“Kalo tidur ga merem bisa ga ya?”

Ketakutan itu muncul ketika melihat karya orang lain lebih aduhay, apalagi temen sendiri. Iri dengan skillnya. Bukan karena takut kalah saing, tapi yang membuat gue merasa terbebani adalah komentar-komentar yang akan muncul setelah diupload.

Seiring berjalannya waktu, gue mulai sadar. Semakin gue ikuti ketakutan itu, semakin bikin gue males untuk terus belajar. Sampe akhirnya gue bersikap bodo amat. Suka, boleh apresiasi. Nggak suka, bukan urusan gue. Karena kalo selalu mendengarkan celotehan netizen di negara berbakingsoda, hidup akan terasa sangat berat.

Intinya, saling menghargai dan hindari perdebatan sampah. Udah lah.. lebih baik ngestalk mantan. Tapi hati-hati kepencet like, apalagi di foto berdua sama pacar barunya. Wkwkwk bye!

Selasa, 05 September 2017

Meet & Greet Gitasav dan Review Buku Rentang Kisah


Terhitung udah sebulan gue mantengin vlognya Gitasav. Sehari satu atau dua episode. Sebelumnya gue nggak pernah tertarik buat ngikutin update channel youtube para vlogger, tapi pas pertama kali liat videonya doi, gue langsung berasumsi kalo ini adalah channel yang punya konten, ada isinya. Nggak cuma sekedar ngomong depan kamera.

Seperti anak muda pada umumnya yang suka berselancar di instagram, gue menemukan e-flyer yang isinya bakal ada Meet & Greet Gitasav plus pre-launching buku pertamanya. Langsung gue kabarin dan ngajak Fadlah buat dateng kesana, eh si cinta excited dan mengiyakan ajakan gue.

Minggu, 3 September 2017.
Berangkat dari Jakarta ke Depok naik motor, memakan waktu kurang-lebih 1 jam. Jalanan pagi masih oke, nggak terlalu rame karena hari minggu. Agak siangan, matahari mulai eksis. Panasnya berasa lagi tiduran di atas kompor yang apinya nyala, ditambah harus nungguin lampu merah berubah jadi ultraman. Maksudnya jadi hijau.

Sampailah kita di Gramedia Depok dengan jari gue yang belang karena pake sarung tangan yang cuma nutupin setengah jari. Fadlah membetulkan kerudungnya yang udah nggak berbentuk lagi setelah pake helm cukup lama.

"Akhirnya adem coy!"

Nukerin tiket dengan buku Rentang Kisah dan merchandise dari Gagas Media, terus masuk ke venue. Ternyata isinya mayoritas cewek, sementara yang cowok bisa dihitung pake jari. Oke lah, yang penting gue nggak sendirian. Acara dimulai dengan ngobrolin buku Rentang Kisah ini, berlanjut ke sesi tanya jawab, lalu berakhir dengan sesi foto sama Gita. Kalo mau liat foto gue, baca dulu sampe abis ya!

Sebelum hari H, gue udah nulis di note hp untuk nanya ke Gita, dan alhamdulillah gue terpilih buat bertanya sekaligus mendengar jawaban langsung dari doi. Setelah itu dapet goody bag dari Gagas Media. Rejeki anak sholeh.

Mari kita review!

rentang kisah

Judul Buku : Rentang Kisah
Penulis : Gita Savitri Devi
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 208 halaman

Dari cover, gue suka desain dan warnanya yang adem buat dipandang. Lanjut ke isi bukunya. Eh bentar, ada signature nya coy!

meet & greet gitasav


Buku pertama karya Gitasav ini berisikan kumpulan cerita kehidupannya yang selalu ada tantangan, tapi berusaha keras buat bisa melewati itu. Tentunya dengan pertolongan Allah SWT. Di satu sisi mau ini, tapi orang tua maunya itu. Dari sana doi bisa belajar banyak hal, salah satunya adalah bahwa ridho Allah itu ridhonya orang tua.

Di beberapa bab ada foto yang dijepret sama Gita sendiri. Gue suka sama hasil fotonya, meskipun B&W. Good compotition. Buset, gue berasa udah ngerti banget fotografi. Eh tapi emang beneran keren sih.

Di buku ini Gita nulis dengan gaya yang santai. Seperti biasa doi nulis blog, ngalir gitu aja. Bedanya tulisan di buku lebih panjang. Menurut gue para pembaca bakal penasaran buat baca halaman selanjutnya, selanjutnya lagi, selanjutnya terus. Karena emang berasa doi lagi storytelling in real life. Nggak ngebosenin.

Lo bakal nemu banyak cerita yang nggak cuma bikin ketawa dan sedih atau bahkan sampe nangis. Tapi lo juga bakal dibuat berpikir dan merenung,

"Gue siapa?"
"Tujuan hidup gue apa?"
"Kok gue gini amat ya?"

Di salah satu bab gue menemukan kalimat kalo kampus di Jerman boleh bawa makanan atau minuman ke kelas ketika lagi ujian. Gue langsung kepikiran misalnya bisa kuliah di sana, gue mau ngajak temen-temen liwetan. Minumnya joinan.

Dan bab favorit gue adalah ketika Gita ketar-ketir dengan keadaan udah terlanjur deket sama Paul, tapi mereka harus menerima kenyataan beda agama. Yang bisa dilakukan Gita cuma berdoa, pasrah. Ah, gue sedih abis. Penasaran kan?

Ada beberapa bahasa Jerman yang bikin gue tertantang buat ngucapinnya secara benar, kayak Feststellungsprufung, Studienkolleg, sampe kereta di sana yang namanya U-Bahn. Kalo U-Turn, muter balik dong. Lah itu joke macam apa?

Kisah inspiratif yang dibagikan Gita menurut gue sangat memotivasi diri sendiri bagi siapapun yang baca buat jadi pribadi yang nggak gampang putus asa, optimis sama apa yang dilakukan selama nggak merugikan orang lain.

"The key to live a happy life is to always be grateful and don't forget the magic word: ikhlas, ikhlas, ikhlas." - Gita Savitri Devi (@gitasav)

Well, seperti itulah review dari gue. Gue sangat merekomendasikan buku ini buat lo yang pengin ditampar oleh rasa penyesalan. Penyesalan lo terlalu nurutin ego, penyesalan devil yang ada di diri lo dibiarkan terus berkembang. Karena nggak selamanya hidup itu lurus aja, kita harus punya cara yang bijak dalam menghadapinya. Sampai berjumpa di tulisan gue selanjutnya!

Bonus :

ea


Jumat, 28 Oktober 2016

Nongkrong Santai Dengan Batik Kekinian

Kalo diperhatikan semakin banyak tempat nongkrong yang mulai membentangkan sayapnya. Mulai dari yang sederhana, sampai berkelas sekalipun. Jadi, kamu nongkrong nggak cuma di toilet aja. Mayoritas yang mengisi tempat itu adalah anak muda untuk kongkow bareng temen atau sahabat, saling bercanda, tukar pikiran, bahkan tukar bau badan.

Tapi ada hal yang penting sebelum kamu pergi ke sana. Ya! Pakaian yang digunakan. Masa sih kamu masih pake baju tidur sama boxer ultramen bilang, "Mbak, moccacino-nya satu." Kan agak gimana gitu, ya. Lagian nggak enak dilihat juga. Belum kalo belakang bajunya bolong.

Berbicara pakaian, sekarang kita beralih ke fashion. Seiring berkembangnya zaman, semakin berkembang pula trend atau style baru yang lebih bagus. Contohnya adalah batik. Batik selain jadi ikon budaya yang patut kita banggakan sebagai warga negara Indonesia, juga memiliki nilai seni yang tinggi. Banyak motif yang ditawarkan dan terlihat unik. Bahkan sekarang banyak fashion designer yang menggunakannya sebagai bahan utama project mereka untuk dirancang agar terkesan modern dan elegan.

Selama ini gue berpikir kalo batik cuma cocok digunakan saat ada acara penting aja, soalnya emang masuk kategori pakaian formal. Setelah gue baca artikel ini, ternyata banyak baju dan celana batik yang bisa dipadupadankan biar tambah cihuy. Ternyata nggak kalah keren sama baju distro. Ini beberapa contoh style yang bisa kamu coba :

Atasan Batik Dengan Bawahan Celana Santai Membuat Kamu Terlihat Elegan

batik modern
sumber 

Buat Kamu yang Suka Menggunakan Rok, Bisa Dengan Kain Batik Sebagai Bawahan Untuk Menambah Kesan Formal

sumber

Cowok Juga Harus Punya Style, Supaya Tetap Tampan Dapat Menggunakan Kemeja Batik Sebagai Atasan, Celana Chino Dan Sepatu Kesukaan

sumber

Nah Buat Kamu yang Nggak Suka Pake Kemeja, Ada Juga Kaos Batik yang Dapat Dipadukan dengan Celana Jeans

sumber


Bener kata gue kan? Batik sekarang itu kece.

Kamu nggak perlu lagi bingung pake pakaian apa saat mau nongkrong, karena batik pun bisa. Nggak ada lagi yang ngecap bahwa kamu kuno ataupun sebagainya. Tinggal mix and match kamu bisa tambah cantik atau ganteng, dan yang paling penting adalah percaya diri kamu akan meningkat. Cekrek, upload ke Instagram!

Dari empat contoh di atas, kamu paling suka yang mana? Tulis di kolom komentar ya! :)

Kamis, 31 Desember 2015

Welcome, 2016!

tahun baru 2016

2015.

Hm..

Gue merasa selama setahun nggak melakukan perubahan apa-apa. Mulai dari penampilan, cara berpikir dan bersikap. Nggak berkembang, nggak ada karya yang memuaskan, nggak membanggakan orang yang gue sayang. Ya gini-gini aja. Flat.

Setahun itu pula gue dapet banyak pelajaran hidup. Kejadian atau hal-hal yang bikin gue susah lupa karena emang bener-bener menyakitkan dan lumayan menguras waktu dan tenaga, apalagi pikiran. Tapi di sisi lain gue juga merasakan nikmatnya sebuah kebahagiaan dari orang-orang sekitar yang selalu mendukung gue melakukan apapun. Kecuali maling ayam.

Segitu aja keluhannya. Mau coba gue lapor ke Customer Service, kira-kira direspon dan dikasih solusi nggak ya? Atau malah dibales, "Maaf, kami tidak menerima curhat. Menerima makanan, iya. Silakan kirim ke alamat kami."

Lo customer service apa Irfan Alharits? Bawaannya laper mulu. #IniApaanSih

Skip.

Di penghujung tahun ini gue mengucapkan terima kasih buat kalian yang udah mau meluangkan waktu dan kuotanya buat sekedar mampir ke blog gue. Terlebih mau membaca dan ikutan mengisi kolom komentar. Kalian adalah penyemangat gue buat tetep nulis dan update blog. Tanpa kalian blog ini ibarat rumah yang banyak isinya, tapi nggak ada penghuninya.

Ngomongin resolusi, gue sih nggak muluk-muluk. Cinta gue diterima Raisa aja juga udah cukup. Bercanda bercanda.

Di 2016, semoga segalanya lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Cita-cita bisa diwujudkan dengan lancar jaya, blog makin rame, tulisan makin cihuy, dan yang paling penting, KEEP BLOGGING!

Welcome 2016, please be mine.

Eh.

Please be nice.

HAPPY NEW YEAR!!!

Sabtu, 26 Desember 2015

Ceritanya Review Film Single


Nggak berasa udah sebulan gue nggak update tulisan di blog ini. Nggak berasa email gue kosong nggak ada job review atau semacamnya. Nggak berasa udah berada di penghujung tahun 2015. Nggak berasa dikit lagi tahun 2016. Nggak berasa abis tahun 2016 pasti 2017. Nggak berasa lo baca paragraf pembuka yang isinya nggak penting.

Jadi beberapa hari yang lalu gue baru aja nonton film yang lagi hitz. Yup, Single karya Raditya Dika. Gue nonton bareng Fadlah di salah satu mall di Jakarta. Sebelum berangkat gue liat review orang-orang yang udah duluan menyaksikannya. Kesimpulan yang gue dapet sih katanya filmnya keren, tapi gue sempet baca juga ada yang nonton bareng sama pacar, eh setelah selesai mereka putus. Gue makin bingung. Takutnya nanti doi minta putus juga.

Siang itu antrian di bioskop nggak panjang, jadinya gue bisa dapet tiket dengan cepat, tanpa perantara, syarat mudah, jaminan hanya BPKB motor atau mobil. Kok gue jadi kayak poster iklan yang suka ditempelin di pohon ya?

Sebenernya gue nggak jago bikin review, tapi anggaplah ini kesan gue setelah nonton Single nya Radit. Let's check it out!


SINGLE

review film single

Awal mulai cuma layar gelap terus ada dialog gitu. Soundnya super jernih. Gue rasa recordernya bukan handphone china. Setting pertama di dalem mobil. Ebi (Raditya Dika), Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan Victor (Babe Cabita) lagi asik ngobrol. Baru scene ini aja jokes yang dikeluarin sama Victor udah bangke banget.

Btw Ebi adalah sosok jomblo yang udah lumayan lama. Problemnya, dia tipe orang yang susah buat bisa komunikasi lancar sama cewek. Kurang percaya diri. Akhirnya dia cuma bisa bertingkah dengan gayanya yang lucu.

Sepanjang film diputer, yang gue perhatikan adalah cara pengambilan gambar. Beda banget sama film-film Radit yang sebelumnya. Angle yang dipilih selalu keren, jadi makin berasa feelnya.

Ada beberapa scene yang bikin gue geleng-geleng kepala sembari tepuk tangan terus bilang, "Anjrit, keren parah!". Pertama, adegan pas balapan mobil sama Bang Joe (Chandra Liow) berasa nonton Fast & Furious, terus mobilnya Ebi meledak karena terjun gitu. Kedua, adegan di pesawat saat mau skydiving. Pecah!

Bicara akting, perkembangan Radit di film ini sangat pesat. Peran yang dimainkan terasa menjiwai, especially ekspresinya. Kalo cara ngomong, ya tetep Radit yang sebenernya. Babe dan Pandji, karena emang basicnya komedian, jadi mau ngapain aja juga lucu. Kayak bukan akting. Chandra menurut gue kurang natural, tapi cocok memerankan karakter Bang Joe yang antagonis dan high-class. Annisa Rawles adalah pilihan yang tepat buat memerankan Angel. Karakter yang peduli dengan orang lain, ramah, juga gampang bikin orang jatuh cinta karena parasnya yang cantik.

Overall, Single adalah film tergokil yang pernah dilahirkan oleh Tuyul Produktif. Gue rekomendasikan buat nonton karena bakal banyak pelajaran hidup yang bisa lo dapet. Yang jomblo siapa tau setelah filmnya selesai, lo diajak jadian sama orang yang belum lo kenal sebelumnya. Yang punya pacar, mudah-mudahan pacar lo nggak minta putus. #BanggaFilmIndonesia

Senin, 16 November 2015

Terlalu Cepat

terlalu cepat

Hari itu gue bingung mau melakukan apa di rumah, karena cuma ada barang elektronik yang nemenin gue. Itupun nggak bisa diajak ngobrol. Hape nggak ada pulsa, apalagi kuota internet. Bokap kerja, nyokap lagi ngambil rapot sekaligus mau jalan-jalan dulu sama adek, dan kakak yang juga kerja dan pulang ke rumah cuma seminggu sekali. Mungkin doi tidur di emperan toko. Gue nggak tau.

Kegiatan gue saat itu cuma makan, baca buku, dan tiduran di kasur sembari menatap langit-langit. Ternyata lumayan silau. Gue baru sadar, ternyata kamar gue nggak ada atapnya.

Gue bener-bener merasakan kesepian. Akhirnya gue lebih memilih untuk terpejam karena gue pikir mungkin nanti setelah bangun, nyokap udah pulang. Adek gue ditinggal di angkot. Kenyataan berkata lain. Rumah masih terlihat nggak ada cahaya, padahal udah malem. Tanpa kayang terlebih dahulu gue langsung beranjak dari kasur dan menyalakan seluruh lampu, lalu balik ke kamar lagi.

Arloji terus bekerja sebagaimana mestinya.

Tik tok tik tok..

"Wakwawww~", suara pintu terdengar.

Yoi, cuma pintu rumah gue yang bisa bersuara seperti itu ketika dibuka. Nyokap sama adek pulang, gue langsung nyamperin mereka. Mau ngasih tau kalo abis buka pintu, ditutup lagi. Bercanda bercanda.

Tanpa mikirin negara dulu, gue langsung minta wifi sama adek.

Buka twitter nggak ada mention yang masuk, gue cuma scroll timeline. Lihat tweet yang isinya kondisi lalu lintas di beberapa tempat yang bikin gue mikir, "ngapain gue merhatiin lalu lintas, sementara lalu lintas aja nggak pernah merhatiin gue?"

Lanjut twitteran, eh terbesit sebuah ingatan ketika baca tweet-tweet galau tentang seseorang yang dulu pernah jadi pacar. Sebut saja mantan. Gue search akun mantan gue berdasarkan namanya, sampe nama orang tuanya, tetep nggak ketemu. Mikir sebentar, gue berinisiatif buat liat list following twitter temennya. Eh bener ada, ternyata dia ganti username.

Gue follow, nggak lama kemudian difollback. Eaa~

Eaa~

Eaa~

Kembali ke lap.. top!

Dengan deg-degan gue memberanikan diri untuk mengirim direct message ke dia. Biasa lah, basa-basi orang yang udah lama nggak saling komunikasi. Sampe berujung gue minta kontaknya dia dengan tujuan biar nggak ribet buat chattingan.

Saling bercanda, saling minta pendapat. Pokoknya asumsi gue saat itu adalah sifat dia nggak berubah. Masih tetep sama seperti dulu; asik diajak ngobrol.

Singkat cerita, entah gue sendiri pun nggak ngerti kenapa rasa itu perlahan hadir kembali. Masuk hari ketiga gue chattingan sama dia, saat itu udah larut malem. Gue memberanikan diri buat menyatakan perasaan lewat aplikasi chat.

Dan respon yang gue dapatkan dari dia adalah menganggap kalo gue cuma bercanda. Dan di waktu yang sama itu pula gue merasa laki-laki paling bodoh yang baru komunikasi selama tiga hari udah berani buat mengungkapkan isi hati. Sama mantan lagi.

BUNUH GUE!! BUNUH GUE!! TAPI JANGAN DEH...

Yaudah lah, gue mulai singkirkan jauh-jauh perasaan itu. Lagian wajar juga kalo dia heran karena bisa secepat itu gue kembali jatuh hati. Gue bales chat dia kayak biasa seakan nggak terjadi apa-apa. Begitupun esok harinya. Gue masih tetep bikin hapenya dia bergetar terus.

Tapi gue nggak nyesel. Karena bagi gue, move on bukan tentang lupa sama masa lalu, tapi seberapa berhasil sembuh dari luka yang pernah diberikan mantan dulu. Gue berani mengungkapkan karena gue emang merasa udah pulih kembali. Dan nggak ada salahnya, kan?

Pas sore, tiba-tiba Sambalado nya Ayu Ting-Ting bunyi. Menandakan ada notif di hape gue. Gue buka twitter, kemudian langsung menuju tab mention. DAN... TARAAAA!!!!

Tunggu.
Sabar dulu.
Gue mau nanya, notification sound macem apa yang durasinya sampe satu lagu? Itu nada pemberitahuan atau emang niat mau dangdutan? Tarik mang! Yihaaa~

Oke, lanjut.

ADA SEORANG COWOK NGEMENTION GUE YANG PROTES KARENA MENURUT DIA, GUE NGUSIK CEWEKNYA YANG DISERTAI USERNAME SI MANTAN GUE INI.

Pake huruf kapital semua dan ditambah bold biar kesannya dramatis dan tajam. Setajam silit. Aih..

Gue mencoba buat narik nafas sedalam-dalamnya, tenangin diri pelan-pelan. Gimana nggak kaget, dia nggak pernah bilang kalo udah punya pacar. Yowes lah ya. Gue cukup tau aja.

Eh ada chat masuk dari kontak dia yang dikirim sama cowoknya. Minta supaya gue nggak ganggu ceweknya lagi. Oke, gue terima. Tapi di awal, cowoknya manggil gue dengan sebutan nggak enak: ganteng (sebenernya bukan ini, tapi biar alus aja.) Kesel? Banget.

Padahal kalo pake logika, misalnya gue dianggep ganggu, bisa langsung block. Kelar. Lah ini malah nyari ribut dengan dalih gue ngusik ceweknya. Logika lagi ya, ngapain ceweknya ngeladenin gue? Jangan-jangan... Ah, sudahlah.

"Untung gue belum nembak. Jadi nggak terlalu sakit~" Ucap gue menghibur diri. Di dalem hati. Keren, kan, suara hati gue bisa diketahui kayak sinetron? Bedanya, ini dibaca bukan didenger.

Pas cerita ke kakak gue masalah ini, doi malah bilang, "kayak nggak ada cewek laen aja ngedeketin mantan."

Gue cuma bisa diem sambil ngangguk-ngangguk ganteng. "Iya juga sih," celetuk gue. Tapi gue sempet mikir, "cewek lain mah banyak, cuma yang mau sama gue dikit. Paling ya sekelas Raisa atau Pevita Pearce. Gue mau yang lebih dari mereka." #SombongBerkelas

Dari kejadian tersebut, gue bisa menjadikan sebuah pelajaran tentang cinta yang sulit untuk ditebak, cinta yang datang kapan dan di mana aja, dan cinta yang bisa dipersembahkan untuk siapa aja. Bahkan kepada seseorang yang telah menjadi kepunyaan orang lain.

"Ngomongin cinta jago, pacar kagak punya. Dasar raket nyamuk!" Teriakan yang udah pada taken.

Jago itu kan ayam, kok jadi nyamuk?

Lho, kalian pada kenapa?

Susah ya bikin joke. Sori teman-teman.

Skip.

Sekarang gue jadi ngerti betapa pentingnya buat mencari tau tentang seseorang yang mau kita jadikan pasangan, menghargai perasaan yang kita miliki dengan memendamnya terlebih dahulu sampai waktu yang tepat, lalu ketika gagal menerima dengan lapang dada.

"Semakin mudah jatuh hati, semakin besar resiko sakit hati." - Irfan Alharits (lagi bener)

#NowPlaying HiVi! - Orang Ketiga